Showing posts with label untitled series. Show all posts
Showing posts with label untitled series. Show all posts

Friday, 11 October 2013

"aku sendiri tidak tahu aku ini sebenarnya makhluk apa. Manusia atau bukan....."

-Untitled-

Aku berdiri lama di depan cermin. Mengamati pantulan diri. Tangan kiriku menyentuh cermin. Bayangan itu pun melakukan hal yang sama. Aku masih punya bayangan. Tanpa sadar, aku melihat ke bawah. Bayangan hitam yang diciptakan cahaya, terbentuk disana.

Ucapan Yume dan kejadian kemarin membuatku syok. Berkali-kali aku mencubit pipi, tangan, bahkan perutku, untuk memastikan kalau itu hanya mimpi. Tapi, rasa sakit dan panas terasa dibagian yang aku cubit. Aku berpikir pasti ada yang salah dengan cermin di ruang koreografi, tapi apa yang salah? Bayanganku terlihat jelas disana. Dan, hanya ada bayanganku!

Waktu itu, aku sempat mengambil jarak ketika Yume mendekatiku. Ada perasaan takut yang bercampur aduk di dalam pikiranku sehingga aku tidak bisa berpikir logis. Aku ingin lari, tapi kakiku tidak dapat digerakkan. Yume menyadari sikapku. Dia berhenti mendekatiku. Wajahnya mengatakan 'aku tidak berniat menakutimu, tapi beginilah aku'.

Dia bukan hantu, dia bukan setan. Dia Yume! Aku memberi pikiran positif ke otak dan seluruh badanku. Aku memperhatikannya yang melihat ke seluruh kaca yang terpasang di dinding.

"kamu.. takut?" akhirnya dia mulai mengeluarkan suaranya. Hanya anggukan kecil yang kuberikan. "maaf, aku tidak tahu kalau kamu akan sekaget itu"

"siapapun akan kaget bila melihatnya!" aku terkejut mendengar sendiri nada suaraku yang lebih tinggi. Aku tidak bermaksud berteriak.

"aku tahu itu. Aku hanya ingin kamu tahu" dia berjalan mendekati cermin, menyentuh benda itu dengan tangan kanannya. "aku tidak tahu apa yang salah denganku. Setiap kali aku bertemu dengan cermin, pertanyaanku selalu sama. Kemana bayanganku?" dia melihat benda di depannya tidak memantulkan apa-apa. Dari sana, dia dapat melihatku yang berdiri tidak jauh di belakangmu. Dan mulai memperhatikanku. "aku sendiri selalu bertanya-tanya, siapa aku? Manusiakah? Tapi manusia mempunyai bayangan dicermin,
sedangkan aku tidak. Atau aku 'mereka'? Tapi 'mereka' tidak punya bayangan, sedangkan aku masih punya bayangan hitam dibawah kakiku"

Aku mencerna ucapannya. Berusaha mencari kalimat yang pas untuk diucapkan.

"lagipula.." dia menambahkan, "kakiku menyentuh tanah.." dia melompat-lompat untuk membuktikan. Terdengar suara 'buk-buk' dari sepatunya yang menyentuh lantai.

Akhirnya aku tidak berbicara apa-apa waktu itu. Suara langkah dari anak-anak koreografi yang mendatangi ruang itu membuatku dan Yume segera bergegas keluar. Bisa berbahaya kalau mereka melihat keanehan dari Yume, pikirku. Kami diam sepanjang perjalanan pulang.

Aku mengambil dasi yang tergantung di belakang pintu kamar. Beberapa pakaian tergantung disana menjadikannya sarang nyamuk. Sambil menatap cermin, aku membetulkan dasi yang sedikit menyerong ke kanan. Bagaimana cara Yume melakukan kegiatan yang berhubungan dengan cermin?

Tuesday, 30 April 2013


Namanya Yume. Dua tahun yang lalu dia pindah ke sekolah ini. Yang membuat dia mencolok diantara para siswa sekolah ini adalah rambut pendeknya yang berwarna putih. Memiliki rambut yang berbeda dari kebanyakan orang menimbulkan beberapa isu. Ada yang beranggapan kalau dia terkena penyakit parah, ada juga yang mengatakan bahwa dia seorang anak yang dikutuk.

-Untitled-

Aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Ucapan Yume kemarin sore membuatku semalaman terjaga. Aku setengah kamu, juga setengah mereka. Apa maksudnya? Apa dia menggodaku lagi?

Sekolah masih sangat sepi. Ruangan kelas masih terkunci. Beberapa petugas kebersihan menyapu daun-daun kering yang berjatuhan di taman sekolah. Aku tersenyum memberi salam kepada mereka.

Pikiranku masih berusaha mencerna ucapan Yume. Setelah dia menceritakan semua 'rahasia'-nya, aku kira ucapan itu bukan untuk menggodaku. Apa ya maksud ucapannya itu? Kalau dipikir-pikir, namanya berarti mimpi. Maksudnya dia ga nyata begitu?

"Ikkii..."

Aku menoleh mendengar suara teriakan itu. Seseorang berlari kearahku dan menangkapku.

"Yu-Yume?" aku terkejut ketika tiba-tiba dia memelukku.

"ehehe.." seperti biasa dia hanya tersenyum-senyum.

"tumben datang pagi?" aku memulai pembicaraan.

"itu harusnya pertanyaanku. Ikki sukanya berangkat siang kan?"

"oh iya hahaha. Aku semalam ga bisa tidur" kulihat raut wajahnya bertanya-tanya, "gara-gara ucapanmu kemarin"

"yang mana?" dia mengingat-ingat, "ah yang itu.. ya ampun, ga usah terlalu dipikir"

Kami duduk di luar kelas. Petugas yang membawa kunci ruang kelas belum datang. Selama menunggu kelas dibuka, kami hanya membicarakan tentang sekolah dan ekstrakulikuler. Rasanya menjadi semakin akrab dengannya. Padahal sebelumnya, jarang sekali aku menyapanya meski dia duduk di belakang bangkuku.

"oh iya, ikki ambil ekskul apa?"

"paduan suara. Dulu aktif disitu, tapi karena udah tingkat akhir, jadi ga aktif lagi"

"ya mau gimana lagi, tingkat akhir seperti kita konsennya ke pelajaran"

"iya sih, hanya saja kadang kangen datang ke ruangan paduan suara"

"tinggal datang saja bolehkan? di klubku boleh-boleh saja kok datang ke ruangan"

"enggak boleh ama guru vokalnya. Anak tingkat akhir ga boleh datang. Nyebelin banget kan?" aku merasa geregetan kalau mengingat guru vokal mengusir anak tingkat akhir yang datang ke ruang paduan suara, "loh Yume ikut ekskul apa?"

"kesenian. Asik loh.."

"wah.. Yume jago nggambar?"

"di klub kesenian ga cuma jago menggambar. Ada yang pahat juga. Semua diajari, jadi anggotanya bisa semua. Aku lebih tertarik ke lukisan"

"aku mau lihat lukisanmu" aku memasang wajah memohon.

"kalau ga salah di ruang klub ada. Kita kesana pas jam istirahat atau jam pulang ya.."

Aku mengangguk senang.


Tuesday, 16 April 2013


"ya itu. Sebagian dari mereka disini loh. Memandangimu dengan heran dan penasaran. Mereka pikir kamu mangsa yang enak"

-Untitled-

Sesaat aku merasakan hawa yang aneh. Membuatku terdiam ketakutan. Kedua kakiku seakan dipegang erat, tidak dapat bergeser sedikitpun.

"jangan menakutinya bodoh!" kakak laki-lakinya sudah berdiri di belakangku. Laki-laki itu terdengar sedikit marah.

"ehee.. maaf" temanku itu menjulurkan lidah, "aku bercanda kok hahaha"

Aku masih ketakutan. Pukulan darinya sedikit menyadarkanku.

"maaf maaf aku menakutimu, hehe.."

"ja-hat.." aku masih merasa gemetar.

"tapi sebagian yang dikatakannya benar" laki-laki itu menambahkan kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan.

Aku memandangi teman sekelasku itu. Dia tampak tenang setelah menggodaku. Sepertinya memang banyak yang disembunyikannya.

"yang aku katakan tadi itu ga bohong kok" dia mulai bercerita, "disini memang tidak cuma ada aku dan kakakku. Ada penghuni lain yang tinggal. Dan jumlahnya jauh lebih banyak dari yang kamu kira"

Setelah mendengar itu, spontan kepalaku menoleh mencari yang dia maksud. Tapi aku tidak punya kelebihan untuk melihat makhluk seperti itu.

"ternyata aku salah. Aku kira kamu bisa melihat mereka, makanya aku mengajakmu kesini. Tapi pengamatanmu yang detil, dan sampai membuatku bercerita.. itu keren!"

Aku tidak tahu harus bangga atau tidak. "kenapa kamu mengira aku bisa melihat mereka?"

"insting mungkin hahaha...." dia tertawa, "beberapa orang yang aku ajak kesini hanya terpesona dengan bangunan yang besar ini. Tidak memerhatikan sesuatu yang aneh"

Dari ucapannya, aku merasa bahwa dia merasa kesepian. Dia ingin ada seseorang yang memerhatikannya dan mendengarkan apa yang ingin disampaikannya.

"eh, mereka yang kamu maksud itu makhluk seperti apa? semacam hantu gitu?" aku bertanya perlahan.

"semacam itu" jawabnya cepat, "tapi aku ga suka mereka dibilang begitu. Memangnya rumahku berhantu? Hmm.. mungkin mereka semacam itu, tapi wujud mereka tidak seperti yang ada difilm-film. Mereka sama seperti kamu kok. Hanya saja mereka tidak terlihat. Pernah dengarkan, jika kamu dapat melihat mereka, itu tandanya mereka dalam keadaan lemah"

"oh makanya mereka sekarang tidak terlihat?" dia mengganguk menjawab, "kapan mereka dapat terlihat?"

Dia berpikir. "kalau mereka sedang kelaparan, atau ketika senja mulai datang. Sekitar pukul 4 sore, kamu bisa melihat sebagian dari mereka. Atau ketika bulan purnama. Kamu bisa melihat mereka dari pagi sampai malam. Bukan berarti mereka dalam keadaan lemah, ini malah sebaliknya. Makanya hati-hati ketika bulan purnama"

Tuesday, 19 March 2013


Pelajaran terakhir selesai. Aku merapikan mejaku, memasukkan buku-buku yang kugunakan selama pelajaran. Kemudian duduk tenang mendengarkan suara guru.

"eh ketempatku yuk habis ini.." ajak teman yang duduk di belakang bangkuku.

Aku menoleh. "langsungan?"

Dia mengangguk. "kalo pulang dulu kelamaan, lagian deket sini kok"

Aku menggaruk kepalaku. Aku tidak terbiasa main sehabis pulang sekolah.

"ayolaah.. bentar aja deh" pintanya.

Aku mengangguk, "iya deh.."

-Untitled-

Rumahnya tidak begitu jauh dari sekolah. Hanya saja jalan yang dilalui tidak standar. Itu sebuah jalan setapak yang jarang dilewati orang. Semak belukar yang tidak terurus terkadang menghalangi jalan. Pohon-pohon jati berumur ratusan tahun menambah nuansa seram.

"tidak ada jalan lain?" aku membuka percakapan.

Kulihat dia berpikir sesaat. "ada, tapi jauh. Ini jalan pintas yang dibuat oleh kakakku"

Aku mengangguk-angguk. "kamu tidak takut lewat sini?"

Dia melihatku kebingungan, "takut? kan masih siang..."

"iya juga sih.." aku merasa sedikit malu. Tapi tempat ini membuatku tidak nyaman.

"ah itu rumahku.."

Kami keluar dari jalan yang tidak standar itu. Ada sebuah pemukiman yang normal. Aku sudah berpikir yang aneh-aneh. Jalan pemukiman itu pun sudah beraspal. Beberapa orang lewat dan menyapa temanku.

"nah ini rumahku. Maaf ya jelek.." dia membuka pintu gerbang.

Rumahnya bisa dibilang besar. Pekarangannya luas dan bersih. Rumput-rumput yang memenuhi kebun samping dipotong dengan rapi. Bangku taman yang terbuat dari besi dibiarkan berkarat. Berbanding terbalik dengan keadaan sekitar yang sering dirawat.

Dua tahun lalu, dia masuk sebagai murid pindahan di sekolahku. Dari cerita yang kudengar, dia cuma tinggal berdua dengan kakak laki-lakinya yang pengangguran. Sedangkan orang tuanya telah lama meninggal. Aku sendiri tidak pernah bertanya soal itu.