Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

Tuesday, 19 April 2016

Judul : 7 Kisah Klasik
Judul Asli : The Works of Edgar Allan Poe Vol. 1-5
Penulis : Edgar Allan Poe
Terbit : September, 2015
Cetakan : I, 2015
Penerbit : Diva Press
Tipe : Kumcer
Harga : Rp 40000

Sinopsis
Edgar Allan Poe terkemuka karena memberikan warna baru dan lebih gelap dalam kesusastraan Amerika yang kala itu dikuasai genre romantik. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena dunia telah lama mengenalnya sebagai master dari kisah-kisah pendek bernuasa gelap, gotik, dan kental akan nuansa horor.

Baginya, teror dan horor berasal dari jiwa. Poe percaya teror adalah bagian dari kehidupan dan karena itu subjek yang sah untuk sastra.

Karakter manusia memang tidaklah sederhana, tidak melulu hitam-putih. Ada sisi kelam yang berusaha menyeruak dalam diri manusia. Poe lewat teknik penulisannya yang khas dan rumit, seolah hendak mengajak pembaca untuk mengupas lapis demi lapis karakter dalam diri manusia.

Selamat datang di dunia gotik ala Edgar Allan Poe. Mari membaca, Poe akan mengajak Anda berpikir ulang tentang diri kita sejatinya sebagai manusia.

---

Cerita
Kucing Hitam
Diceritakan tentang seorang laki-laki yang mempunyai sifat penurut dan belas kasih. Laki-laki ini juga sangat menyukai hewan. Tidak heran jika di rumahnya ia memelihara berbagai hewan. Ia tumbuh besar bersama hewan peliaraannya itu. Ia menikah dengan seorang wanita yang tidak keberatan dengan sifatnya yang menyukai hewan. Bahkan istrinya membeli piaraan baru seperti burung, ikan mas, anjing, kelinci, monyet dan kucing.

Kucing berwarna hitam itu diberi nama Pluto. Takhayul tentang kucing hitam tidak pernah dipercayai oleh istrinya. Namun laki-laki ini selalu menyinggungnya jika kejadian aneh terjadi. Pluto merupakan piaraan kesayangan laki-laki ini. Kucing itu selalu mengikuti kemana laki-laki ini pergi. Dan terjalinlah persahabatan antara pemilik dan piaraan.

Tapi belakangan ini, temperamen dan karakter laki-laki ini berubah. Kebiasaan minum-minum membuat dia menjadi orang yang berbeda. Laki-laki ini jadi sering marah, bahkan memukul istrinya. Piaraan yang lain juga ikut jadi pelampiasannya kecuali Pluto. Awalnya laki-laki ini tidak mau menyerang Pluto, tapi akhirnya dia ikut melukai Pluto. Tahu diperlakukan kasar oleh majikannya, Pluto menghindari laki-laki ini. Melihat Pluto yang tidak mau mendekatinya lagi, laki-laki ini malah mencari Pluto dan mencengkramnya dengan kasar. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki ini, dia tega mencungkil mata Pluto! (aku ga bisa ngebayangin (゚´Ð”`゚)゚)

Semakin hari perlakuan laki-laki ini kepada Pluto semakin menjadi-jadi. Pagi itu, laki-laki ini melilitkan tali di leher Pluto dan digantungkannya ke dahan pohon! Dia melakukan tindakan keji itu dengan berlinang air mata (ini jahat banget, yakin...(°ã…‚° ╬)). Setelah melakukan pembunuhan itu, rumah laki-laki ini terbakar. Untungnya laki-laki ini dan istrinya selamat.

Setelah tenang dari peristiwa kebakaran itu.. laki-laki ini menemukan seekor kucing hitam di kedai tempat dia biasa minum-minum. Kucing itu mirip dengan Pluto. Hanya saja ada bulu putih di sekitar dadanya. Kucing itu mengikuti laki-laki ini pulang ke rumah. Beberapa hari setelah kucing itu jadi piaraan laki-laki ini, rasa tidak suka terhadap kucing itu kembali tumbuh didiri laki-laki ini. Apa lagi kucing itu juga kehilangan mata seperti Pluto. Berbeda dengan laki-laki ini, istrinya malah menyayangi kucing itu, ditambah kucing itu mirip Pluto.

Perasaan tidak suka terhadap kucing itu semakin menjadi. Suatu hari, kucing itu mengikuti laki-laki ini ke gudang bawah tanah. Kucing itu hampir membuat laki-laki ini terjungkal saat menuruni tangga. Spontan amarahnya meledak. Dia mengambil kapak yang ada didekat situ dan diayunkan ke kucing tersebut. Harusnya kapak itu mengenai kucing itu, tapi laki-laki ini malah menancapkan kapak itu ke kepala istrinya (yang sedang menenangkan suaminya)!!


Jantung yang Berkisah
Kupikir ini semua adalah karena matanya! Dia memiliki mata seekor burung pemakan bangkai. Padahal aku mencintai orang tua itu. Lalu aku melakukan pembunuhan itu. Aku melakukannya dengan sangat berhati-hati. Ketika tengah malam, aku masuk ke dalam kamarnya dengan berhati-hati. Di tanganku, aku membawa lentera yang dibungkus kain hitam. Begitu aku berada di dalam, aku membuka penutup kain lentera sedikit supaya hanya seberkas cahaya saja yang menyinari matanya. Aku melakukan hal itu selama 7 hari berturut-turut. Tapi mata orang tua itu tetap terpejam.

Malam kedelapan.. Aku melakukannya lagi. Kali ini terlihat ranjang orang tua itu bergerak. Mungkin orang tua itu mendengar suaraku. Aku masuk ke dalam kamarnya, begitu hendak membuka penutup lentera, orang tua itu berseru, "siapa disitu?". Aku terdiam selama beberapa saat. Orang tua itu mengerang ketakutan dan mencoba kembali untuk berbaring. Begitu merasa orang tua itu sudah berbaring, aku membuka penutup lentera perlahan ke arah matanya. Dan mata itu terbuka!

Aku terus menyinari matanya dengan lentera. Detak jantung orang tua itu semakin cepat dan terdengar lantang. Karena takut membangunkan tetangga, aku berteriak keras yang membuatnya ikut berteriak. Kuseret dia dan kutindih dia dengan ranjang. Setelah tak terdengar suara detak jantungnya, aku memindahkan ranjang dan memeriksanya apakah sudah mati atau belum. Tunggu, belum selesai sampai disitu. Untuk menyembunyikannya, aku memotong-motong jasad orang tua itu dan kuselipkan diantara papan kayu yang ada di lantai.

Paginya.. Tiga orang polisi datang ke rumah!


Cerita Lainnya : Kumbang Emas, William Wilson, Potret Oval Seorang Gadis, Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher, Obrolan Bersama Sesosok Mumi 


"Aku akan mati dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini"
"Kumbang scarab adalah salah satu dewa yang dipuja bangsa Mesir"
"Sungguh, lukisan ini adalah hidup itu sendiri!"


Yoooo....
Ada yang suka misteri? Cocok nih baca buku ini... Aku sendiri tahu nama Poe dari komik Conan dan Black Butler, hahaha. Tapi memang bagus kok tulisan beliau. Apa ya, tulisan beliau tuh gaya bahasanya beda, kadang serem, kadang juga ga jelas (ato akunya yang ga ngerti(´_`))..

Ah sebelumnya juga pernah ada buku kumcernya Poe terbitan GPU sekitar tahun 2010. Haduh udah lama ternyata. Kalo yang diterbitan GPU ada 13 cerpen. Sedangkan yang ini ada 7. Aku beli ini karena ih karangan Poe, tapi waktu diliat isinya (kebetulan aku bandingin ama yang punya GPU) eh samaaaa Σ(゜ロ゜;).... judulnya rada beda sih, terjemahannya juga beda kok. Kalo berminat, silakan beli yaa..


Selamat Membaca...
Hei.. jangan lupa beli bukunya yaaaa ヽ( ・∀・)ノ

Tuesday, 8 March 2016

Judul : Matinya Burung-Burung
Penyusun dan Penerjemah : Ronny Agustinus
Tahun : 2015
Cetakan : 1, April 2015
Penerbit : Moka Media
Tipe : Kumpulan Cerpen

Sinopsis
Kita baca semua yang pernah ditulis tentang cinta. Tapi ketika bercinta, kita dapati bahwa belum pernah ada yang ditulis tentang cinta kita. (Marco Denevi [Argentina] - Kau dan Aku)

Seorang penumpang ke pramugari : "Nona, kenapa pesawatnya tidak bergerak lagi?"
"Perjalanan sudah selesai, Pak, kita tidak sampai ke tujuan."
(Alvaro Menen Desleal [El Salvador] - Rute)

---

Cerita
Simulakra (Edmundo Paz Soldan [Bolivia])
Bercerita tentang seorang anak bernama Weiser yang benci sekolah. Tapi demi ibunya, ia rela bangun pagi, memakai seragam dan berangkat ke sekolah. Bercerita tentang guru-guru di sekolah, tentang ujian. Tentu saja semua yang dikatakan maupun yang dilakukannya hanya tipu muslihat. Weiser melakukan itu semua hingga ia menjadi seorang dokter spesialis bedah syaraf. Bahkan Weiser juga punya klinik pribadi! Lalu ibunya yang tidak tahu menahu soal semua kebohongan anaknya itu, datang berobat dan mengeluh kalau kepalanya selalu sakit.

Hantu-Hantu Agustus (Gabriel Garcia Marquez [Kolombia])
Sebuah keluarga diundang untuk makan siang di kastil Renaisans. Tapi mereka kesusahan mencari letak kastil itu. Seorang penduduk desa yang sedang mengangon angsa, menunjukkan jalan pada mereka. Tidak hanya itu, penduduk itu juga mengingatkan bahwa kastil itu berhantu.
Miguel Otero Silva, si penghuni kastil, mempersilakan mereka masuk ke dalam kastil. Keindahan kastil pada siang hari membuat mereka tidak percaya akan hantu. Miguel bercerita tentang Ludovico, pemilik dan pembangun kastil itu, yang mati dengan mengerikan. Bahkan kamar milik Ludovico, yang ada di lantai 2, masih terawat dengan baik.
Hari semakin sore. Miguel mengajak meeka untuk makan malam dan meminta mereka menginap di kastil itu. Karena hari sudah gelap, mereka mengiyakan. Mereka tidur di lantai satu. Siapa sangka, ketika mereka terbangun.. mereka sudah berada di atas ranjang milik Ludovico yang penuh darah.

Friday, 27 March 2015

"Kita.. bubaran aja ya" ucapnya, tanpa memandangku.


AmnesiA (girl's ver.)


Hari ini lagi-lagi dia mengajakku keluar. Kali ini alasannya karena ingin mencoba es krim baru disalah satu mall. Sebulan terakhir ini, dia sering mengajakku pergi dengan alasan aneh. Hanya ingin nyoba makan ini, ingin mampir ke sana, dan yang lebih konyol lagi minta ditemani beli sampo di depan kosnya. Padahal jarak kosnya dan rumahku cukup jauh. Terkadang aku berpikir kalau ada sesuatu yang ingin disampaikannya.

"Gimana, enak ga?" tanyanya sambil melap sendok es dengan tisu. Dia punya kebiasaan selalu melap sendok atau garpu yang mau dipakainya.

"Iya, enak kok" aku tersenyum dengan ekspresi ngilu di mulut. "Porsinya kebanyakan. Harusnya pesen satu aja.."

"Hahaha dingin ya?" dia mencoba mengejekku tapi memasang wajah yang serupa denganku. "Iya ya, porsinya banyak.. tapi enak nih durennya"

"Eh, ini aku ganti duitnya" aku mengeluarkan uang dari dompet, "dari kemarin dibayarin kamu terus"

Dia menolak. "Gapapa. Kan yang ngajakin juga aku. Jadi aku yang bayar" dia tersenyum.

Dasar. Aku menaruh kembali uang ke dalam dompet. Uang jajanku utuh. Lalu menghabiskan es krim yang mulai mencair. Sesekali melihatnya yang memasang wajah aneh. Kamu kira aku ga tau ya. Padahal di dompetmu udah ga ada uang, tapi masih ngajak aku pergi. Mau sok keren? Aku menghela napas. Akhir-akhir ini, meski bersamaku, dia terlihat tidak gembira. Apa yang kamu rencanain?


Tuesday, 12 August 2014

"Kita.. bubaran aja ya" ucapku. Ada sedikit jeda diantara kalimat tersebut yang membuatku tidak yakin dengan keputusanku sendiri.

Aku melihat ekspresi wajahnya yang datar. Mungkin dia sudah memperkirakan hal ini. Dia menunduk, menyembunyikan wajah. Terdengar tarikan napas sedih.

"Yaudah..." katanya dengan suara sedikit serak. "Dasar bodoh! Jeleeeek!! Bauu!!"


AmnesiA


Aku berdiri di depannya. Lokasi kami sedang berada di halaman parkir sebuah mall. Pikiranku kusut. Aku harus mengatakan hal itu. Ya harus! Harus hari ini. Meski aku tahu aku tidak akan tega mengatakannya. Tapi aku sudah menunda mengatakannya sejak sebulan lalu. Aku tidak yakin alasan ini akan diterima olehnya.

Aku melihatnya. Wajahnya itu yang selalu membuat niatku untuk mengatakannya gagal. Sekarang pun begitu. Niatku sudah turun 80 persen dan aku harus menaikkannya kembali. Dan itu tentunya tidak mudah.

"Ayo pulang" ajaknya sambil menarik tanganku.

"Tunggu.." kataku sambil berhenti berjalan. Aku merasa seperti sedang bermain di FTV. Dia menoleh melihatku. "Ada hal yang ingin aku katakan.."

Dia kebingungan. "Apa? Ngomongnya pas udah sampe rumah ajaa" pintanya seperti biasa. Wajahnya terlalu polos untuk kalimat kejam yang akan aku katakan.

Tapi... aku harus bisa mengatakannya!

Tuesday, 20 May 2014


"tolong besok ke sini ya dik"

Aku memenuhi permintaan itu dan datang ke rumahnya. Aku tidak bisa menolak karena ini permintaan orang tuanya. Akhir-akhir ini aku memang sering mengunjunginya. Orang tuanya, terutama ibunya, terlihat antusias untuk menyuruhku mampir.

The Last Day

Dari kejauhan terlihat seorang wanita dengan pakaian rapi berdiri di depan sebuah rumah. Aku langsung mengenalinya, itu ibunya. Setelah memarkir motor, aku mendekati beliau.

"Selamat siang, tante.." aku merendahkan kepala dan menyalami tangannya.

"Siang.." ibunya tersenyum. Dandanan di wajahnya tidak dapat menyembunyikan raut mukanya yang sedih.

"Maaf menyuruh dik Adit kesini. Kemarin Vidi bilang kalau dia mau ketemu sahabat-sahabatnya buat pamitan. Sebenarnya tante mau saja nemenin dia, tapi tante takut kalau dia malah malu dan merasa tidak bebas. Tante mau dik Adit yang nemenin dia"

"Oh iya, tidak apa-apa kok tante" aku menyanggupi. Lagipula aku sudah sering menemaninya kemana-mana. "Tapi apa Vidi tidak apa-apa kalau keluar?"

"Itulah yang tante raguin. Tapi dari kemarin dia ngotot mau keluar. Ya sudah, tante iyain aja. Tapi kalau dik Adit bisa ngelarang dia ya bagus. Anaknya ada di dalam, ke dalam saja. Tante mau pergi dulu. Jangan pulang terlalu sore ya.."

"Iya tante.."

Mobil berwarna silver itu pun melaju. Aku masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil itu telah hilang dari pandangan.

"Assala---"

"Adiiitt!!!" teriak Vidi berlari keluar dan langsung memelukku. Daster yang dikenakannya mengayun indah.

Friday, 7 March 2014

Kotak pos belum diisi
Mari kita isi dengan isi-isian
Mba Uut minta huruf apa?

Yang Terakhir

Sore hari,
Seperti biasa, tanah kosong seluas setengah lapangan bola itu dipenuhi anak-anak kampung. Sekitar pukul 4 sore, mereka datang berkumpul seakan ada lonceng tambahan pelajaran. Setelah menyelesaikan tidur siang, para orang tua membiarkan anak mereka berlari menemui kehidupan sosial mereka. Meski terkadang ada juga yang lebih memilih untuk mandi dan duduk manis di depan televisi, atau hanya duduk dipinggir lapangan melihat temannya berlari dan menikmati hembusan angin.

Hari ini sekitar 20 anak berkumpul. Lebih banyak dari biasanya, mengingat besok adalah hari Minggu. Usia mereka tidak cukup jauh. Berkisar 7 hingga 12 tahun. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menentukan permainan. Permainan apa yang dapat dimainkan dengan jumlah peserta mencapai 20 orang.

"Kasti" seru anak laki-laki berkaos hitam dengan angka 11 besar dipunggungnya dan celana pendek kotak-kotak.

"Bola!" seru anak laki-laki berbadan besar, dengan kaos ketat tanpa lengan dan celana olahraga. Dipantulkannya bola putih yang dibawanya ke tanah.

"Kucing dan an..." sebelum menyelesaikan kalimatnya, semua anak menggoyangkan tangan mereka ke arahnya. Tidak mau.

"Polisi-polisian?" seorang anak perempuan, mengenakan daster selutut bergambar snoopy, memberi ide dengan ragu-ragu.

Beberapa anak mengeluarkan pendapat. Kesepakatan masih jauh. Beberapa anak perempuan menolak untuk bermain lari-lari. Mereka lebih memilih bermain lompat tali atau pun masak-masakan. Akhirnya tersisa 14 anak.

"Kotak pos gimana?"

Friday, 28 February 2014

Ada ramai-ramai apa?

Aku berdiri di pinggir jalan. Melihat kerumunan para pekerja jalan. Sebuah lubang besar menganga di jalan beraspal itu. Ah lagi-lagi jalan itu rusak. Perbaikan jalan membuat lalu lintas semakin ramai. Buka tutup jalan pun diberlakukan. Seharusnya aku dengan mudah menyeberang, tapi aku malah menanti jalan kosong. Toh masih ada waktu.

Jalan di depan kampus sering rusak. Berapa kali pun diperbaiki, rasanya percuma. Seperti ketok magic. Simsalabim kerusakan hilang, tapi tidak lama. Kerusakan akan muncul lagi di tempat yang sama. Lubang besar itu. Sejak aku pertama masuk kuliah lubang itu sudah ada. Dan ini tahun keempatku kuliah, lubang itu masih ada. Meskipun berkali-kali ditambal.

Dari gosip yang aku dengar, lubang itu ada setelah kampus selesai dibangun. Katanya lubang itu perwujudan dari banyaknya pekerja yang meninggal akibat pembangunan. Semacam meminta tumbal. Antara percaya atau tidak. Tapi selama 4 tahun aku kuliah, sudah 3 orang dari jurusanku yang meninggal di depan kampus. Belum lagi dari jurusan lain. Kelalaian dalam berkendaraan. Biasanya itu yang menjadi alasan.

Perempuan yang Menyukaiku

Aku mikir apa sih.
Setiap kali aku hendak menyeberang, pikiran itu selalu muncul. Ada perasaan takut yang aneh. Tidak, aku tidak percaya sepenuhnya dengan cerita itu. Asal hati-hati itu semua bisa dicegah. Ya, hati-hati.

Friday, 8 November 2013

Dia berdiri memunggungiku. Siapa?

Siapa Disana?

Sesekali mainlah ketempat kakakmu.
Sms yang dikirim ibu kepadaku 3 hari yang lalu masih teringat di kepalaku. Meski pun sms itu sudah aku hapus dari inbox. Tapi setiap kali ibu menelponku, kalimat itu selalu meluncur di akhir sebelum telpon ditutup.
Aku kuliah di kota yang sama dengan tempat kakak perempuanku bekerja. Awalnya kakak perempuanku menawariku untuk tinggal bersama dengannya di kontrakannya. Dia tidak tinggal sendiri. Ada 3 orang seusianya yang tinggal bersamanya.

Setelah pulang kuliah, aku datang mengunjungi kakak perempuanku. Untungnya hari ini dia pulang kerja lebih awal. Aku sampai di kontrakannya sekitar pukul 4 sore. Hanya ada sepeda motor milik kakak perempuanku di garasi. Aku memarkir motor kesayanganku di sebelah motornya.

Kontrakan kakak perempuanku cukup besar. Ada 4 buah kamar tidur di dalamnya. Semua perabotan dan peralatan dapur telah disediakan oleh si pemilik. Ini kali kedua aku datang kemari.

Langit yang mendung, bahkan gelap, membuat lampu jalan dinyalakan lebih awal. Salah satu lampu jalan terletak persis di depan kontrakan kakak perempuanku. Sehingga rumah kontrakan yang ada di depanku, yang lampunya masih mati, terlihat tidak begitu menyeramkan.

Lampu dari dalam ruangan mulai menyala satu per satu. Begitu pun dengan lampu teras. Lampu berwarna putih itu menempel di plafon teras. Meskipun terang, ada kesan redup. Sesekali lampu itu berkedip-kedip kemudian mati. Dan akan menyala kembali setelah beberapa saat. Apa tidak diganti? Kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Kakak perempuanku yang terbalut baju mandi berdiri di seberang.

"kakak!" teriakku terkejut. Meski badannya belum basah, tapi wajah dan rambutnya sudah terkena air.

"aku lagi mandi. Kamu nunggu di kamar aja ya" katanya kemudian lari kembali masuk ke dalam kamar mandi.

Aku melepas sepatu. Kulihat langit mulai menjatuhkan kesedihannya. Semoga cepat reda, pikirku. Titik-titik hujan membasahi teras. Angin yang datang bersama hujan mengarah ke teras, membuat sepatuku basah. Sebelum benar-benar basah aku mengangkatnya. Menaruhnya di dalam. Aku menutup pintu depan.

Ruang tamu. Satu kursi empuk panjang untuk 4 orang, dan 2 kursi kecil untuk 1 orang. Sebuah meja panjang sepanjang kursi panjang. Beberapa toples tanpa isi berdiri malas diatasnya. Lukisan beberapa kuda yang sedang lari menggantung di belakang kursi panjang. Tidak ada yang berubah dari 2 tahun yang lalu.

Ada sebuah tembok yang membagi antara ruang tamu dan ruang menonton televisi. Aku berjalan menuju sebuah televisi berukuran 21 inch. Masih menyala dan menampilkan acara komedi. Di bagian kanan ada 2 kamar berukuran 4 x 3 meter, yang salah satunya kamar kakak perempuanku. Kemudian ada dapur yang menjorok ke dalam. Di bagian kiri ada sebuah kamar berukuran sama yang sedang ditinggal penghuninya. Di sebelahnya -di depan kamar kakakku- sebuah kamar mandi kecil, yang saat ini sedang digunakan oleh kakakku. Ada sebuah kamar yang tidak digunakan, tepat di depan dapur. Seandainya aku dulu mengiyakan permintaan kakak untuk tinggal disini, kamar itu milikku. Karena tidak ada yang mau menggunakannya, kamar itu menjadi tempat sholat. Tapi ntah sejak kapan kamar itu berubah jadi gudang.

Aku masuk ke dalam kamar kakak. Menaruh tas dan duduk di atas tempat tidur. Aku hanya mendengar suara tawa dari acara komedi di televisi, dan suara hujan yang membentur seng penutup tempat jemuran. Dari kamar kakak, tempat jemuran dapat terlihat jelas. Jendela kamar yang dipilih kakak langsung menghadap ke tempat jemuran. Di dekat jendela ada rak buku bertumpuk yang berisi buku koleksi kakak. Semua tertata dengan rapi. Untuk mengambilnya saja butuh tenaga.

Aku tiduran di atas kasur. Memainkan handphone. Kudengar kakak perempuanku sudah selesai mandi. Acara komedi di televisi berubah menjadi acara gosip. Aku meregangkan badan. BRUK! Aku menoleh. Buku-buku di rak buku kakak jatuh berhamburan.

Angin? Atau tanganku? Aku tidak merasa tanganku mengenai rak buku ketika meregangkan badan tadi. Anginkah? Aku melihat jendela. Tertutup. Bahkan korden tipis itu pun tidak menunjukkan adanya angin yang lewat. Siapa disana? Terlihat punggung seseorang dibalik jendela. "kaaak?" panggilku memastikan.

"kenapaa?" jawab kakak perempuanku dengan malas. Kepalaku menoleh ke arah suara. Kakak perempuanku berdiri di depan pintu sambil membawa remote televisi. "ada apa?" ulangnya lagi yang melihat ekspresi aneh di wajahku. "AAAAA kamu apakan bukuku?"

Dia datang menghampiriku setelah melempar remote ke atas kasur. "itu.. itu tadi jatuh sendiri" aku mencoba memberitahu. Tapi ekspresi wajahnya mengatakan lain.

"mana mungkin jatuh sendiri" ujarnya dengan nada sedikit dinaikkan, "kamu ituu.. buku rengket kaya gini mana mungkin jatuh sendiri, kecuali ditendang" kakak perempuanku mengomel sambil membereskan buku-buku yang terjatuh.

"ma-maaf kak.. aku bantu beresin" aku mengembalikan buku-buku tersebut ke tempatnya.

"memang harusnya begitu" dia berhenti mengomel. Diambilnya hair dryer dari laci lemari. Kemudian mengeringkan rambut panjangnya yang ikal.

Siapa tadi? Aku melirik ke jendela dengan perasaan was-was. Tadi ada sebuah punggung yang mengenakan kaos berkerah berwarna biru gelap. Itu tidak mungkin kakak perempuanku. Dia pake daster berwarna pink. Secepat itukah dia ganti baju?

"kaak.." panggilku lirih. Kakak perempuanku hanya menoleh. "temen-temen kakak pulang jam berapa?"

"hmm.." dia mengangkat kepalanya, "sekitar jam 8 mungkin. Kadang jam 10 baru pada pulang. Kenapa?"
Aku menggeleng. "kita di sini cuma berdua kan kak?"

Kakak perempuanku tidak mengerti maksud ucapanku. "maksudmu? kamu jangan membuatku takut.."

Friday, 1 November 2013

Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit. Mungkin ini bukan tindakan yang terpuji. Mengingat banyak peringatan untuk tidak berlari di koridor rumah sakit. Tapi ada hal yang harus aku sampaikan ke ibuku yang bekerja sebagai seorang suster di rumah sakit yang terbilang mewah itu. Itu juga bukan alasan yang membuatku bertindak seenaknya seperti ini.

Aku masih berlari. Ruang tempat ibuku beristirahat, ketika jam makan siang, masih satu belokan diujung sana. Kewaspadaanku menjadi menurun setelah menabrak seorang pria berusia 40 tahun yang saat itu sedang berdiri di tengah koridor. Aku membungkuk meminta maaf kemudian melanjutkan untuk pergi ke tempat ibuku. Dan lagi-lagi aku menabrak seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari belokan. Tubuhnya yang kecil membuat gadis itu sedikit terpental. Bunga-bunga yang dibawanya jatuh berhamburan.

"ah maaf.." aku mendekatinya. Mengulurkan tangan, membantunya berdiri. Setelah kupastikan dia berdiri dengan benar, aku memungut bunga-bunga yang jatuh disekitarnya. "kamu tidak apa-apa?" tanyaku sambil menyerahkan bunga-bunga tersebut.

Gadis itu mengangguk. Ia menata bunga-bunga tersebut didekapannya. Meski ada beberapa bunga yang mahkotanya rontok.

"maaf ya, aku buru-buru" aku menundukkan kepala dan pergi dari hadapannya.


Flower For You


Beberapa hari ini, aku selalu menghampiri ibu setiap jam pulang sekolah. Menunggunya selesai bekerja. Dan pulang bersama-sama. Seharusnya ini menjadi tugas ayah. Namun seminggu yang lalu, ayah ditabrak sebuah mobil. Ya, untungnya tidak parah. Butuh waktu sekitar sebulan untuk penyembuhan. Sejak itu, tugas menjemput ibu menjadi salah satu tugasku.

Ibu sering menyuruhku bermain dengan teman-teman sambil menunggu dirinya selesai bekerja. Rumah sakit bukan tempat yang nyaman, katanya. Memang benar. Bau obat-obatan yang menyengat, bau orang-orang sakit, bau anyir darah. Belum lagi suara sirine ambulan, suara orang teriak kesakitan, suara tangis orang-orang terdekat. Untung saja aku tahan, kalau tidak mungkin sudah dari kemarin aku menolak menunggu ibu bekerja.

Rumah sakit tempat ibu bekerja sedikit berbeda dengan rumah sakit lainnya. Terdapat 3 bangunan utama. Bangunan paling depan digunakan untuk tempat praktik dokter-dokter, mendaftarkan diri sebagai pasien, dan juga apotek. Bangunan kedua, yang terletak disebelah kiri bangunan utama, digunakan untuk ruang UGD maupun IGD, beberapa ruang rawat inap. Untuk menuju ke bangunan ketiga, ada sebuah jalan dengan atap berbentuk setengah lingkaran. Jalan tersebut berada ditengah-tengah kebun bunga. Sebuah pohon besar berusia puluhan tahun, berdiri kokoh di kebun itu. Pohon kokoh lainnya pun tumbuh ditengah-tengah bangunan ketiga yang berbentuk segiempat, yang merupakan ruang rawat inap. Di tengah bangunan ketiga itu, dibentuk sebuah kebun yang dihiasi bunga-bunga indah. Melihat kebun itu, aku selalu lupa kalau aku saat ini berada di rumah sakit.

Setelah menemui ibu, aku minta ijin mengelilingi rumah sakit. Kerjaanku selama di rumah sakit. Ruangan tempat ibu beristirahat berada di bangunan ketiga lantai 1. Bangunan ini yang paling besar, terdiri dari 5 lantai. Di bagian pintu masuk, dipasang 2 pintu kaca besar yang dapat terbuka sendiri. Ketika masuk ke dalam, sebuah tempat informasi dibuat ditengah-tengah ruangan. Kalau saja bangunan ini terpisah dari kedua bangunan itu, mungkin banyak orang akan menyangka kalau bangunan ini sebuah hotel.

Meski beberapa hari ini aku selalu saja ke kebun bunga di tengah bangunan itu, aku tidak pernah merasa bosan. Suasana yang diberikan kebun itu sungguh menenangkan. Ditambah lagi dengan desain yang memukau, sulit untuk dikatakan dengan kalimat. Aku tidak tahu siapa yang mendesain dan membuat kebun ini. Jika aku bertemu dengannya, aku akan sangat berterima kasih. Baru kali ini aku melihat kebun seindah ini. Di rumah sakit.

Friday, 18 October 2013

"assalamualaikum.. assalamualaikum" teriak mba Mika spontan, sesaat sebelum tubuhnya tidak dapat digerakkan.

Siapa Yang Lewat?

Sebuah rumah besar yang digunakan sebagai kos nampak sepi. Garasi yang berada di depan untuk menyimpan kendaraan penghuni kos pun hanya menyisakan sebuah motor matic berwarna hitam. Pintu depan yang terletak di tengah bangunan terbuka beberapa senti dan berayun-ayun ke depan-belakang tertiup angin.

Di ruang tengah duduk seorang anak perempuan dengan kakinya yang dinaikkan ke atas kursi. Meja kaca tanpa taplak di depannya dipenuhi gelas-gelas yang ditinggal pemiliknya, dan bungkusan makanan yang menyisakan runtukan. Si anak perempuan berniat membersihkan meja tersebut, namun niatnya mendadak hilang begitu melihat kotornya meja itu.

"Olif, nonton tivi yuuk..." seseorang keluar dari kamar yang paling dekat dengan ruang tengah. Berjalan menuju televisi dan menyalakannya.

"mba Mika, duduk di bawah aja yak.." saran anak bernama Olif. Dia beranjak dari kursi dan mengambil posisi di depan televisi.

Mba Mika mengambil sebuah karpet gulung disudut ruangan dan menggelarnya. Semacam sebuah piknik di depan televisi. Channel televisi berganti terus menerus. Akhirnya berhenti di acara drama Korea.

"nonton ini aja ya, hehee" mba Mika yang doyan nonton drama Korea hanya nyengir.

Olif mengangguk setuju. Dia juga penikmat drama Korea, walau tidak sefanatik mba Mika.

Sejam berlalu semenjak mereka duduk di depan televisi. Olif dengan santainya tiduran diatas karpet, sedang mba Mika masih duduk dengan melipat kakinya di depan. Camilan di toples yang dibawa Olif dari kamar telah habis setengahnya. Padahal camilan itu tidak pernah dia makan sebelumnya karena rasanya yang aneh.

Televisi itu berada beberapa meter dari pintu depan. Orang yang keluar-masuk akan melewati mereka berdua. Di belakang mereka sebuah pintu yang menuju ke dapur terbuka lebar. Menimbulkan bunyi 'kriiet' setiap tertiup angin. Mendengar suara yang aneh itu, mba Mika menutup pintu tersebut.

Suara orang mengaji mulai terdengar dari masjid. Pergantian waktu sore menuju maghrib. Warna langit pun mulai berubah.

"sepi ya mba" Olif menoleh kearah mba Mika. Dilihatnya perempuan yang 2 tahun lebih tua darinya mengangguk.

Olif melirik lorong yang menuju ke kamarnya yang berada di pojok. Gelap. Seperti sebuah bangsal yang tidak pernah dilewati. Dia ingin bangkit untuk menyalakan lampu, tapi rasa malas menyergapnya.

"yah minumannya habis" mba Mika menuangkan sisa air putih ke mug pinknya. "ambilin dong.." dia menyodorkan wadah minum berwarna transparan kearah Olif.

Olif menerimanya dan meletakkannya dipinggir kepalanya. Dia meregangkan badan sebelum bangun.

Ceklek.

Friday, 11 October 2013

"aku sendiri tidak tahu aku ini sebenarnya makhluk apa. Manusia atau bukan....."

-Untitled-

Aku berdiri lama di depan cermin. Mengamati pantulan diri. Tangan kiriku menyentuh cermin. Bayangan itu pun melakukan hal yang sama. Aku masih punya bayangan. Tanpa sadar, aku melihat ke bawah. Bayangan hitam yang diciptakan cahaya, terbentuk disana.

Ucapan Yume dan kejadian kemarin membuatku syok. Berkali-kali aku mencubit pipi, tangan, bahkan perutku, untuk memastikan kalau itu hanya mimpi. Tapi, rasa sakit dan panas terasa dibagian yang aku cubit. Aku berpikir pasti ada yang salah dengan cermin di ruang koreografi, tapi apa yang salah? Bayanganku terlihat jelas disana. Dan, hanya ada bayanganku!

Waktu itu, aku sempat mengambil jarak ketika Yume mendekatiku. Ada perasaan takut yang bercampur aduk di dalam pikiranku sehingga aku tidak bisa berpikir logis. Aku ingin lari, tapi kakiku tidak dapat digerakkan. Yume menyadari sikapku. Dia berhenti mendekatiku. Wajahnya mengatakan 'aku tidak berniat menakutimu, tapi beginilah aku'.

Dia bukan hantu, dia bukan setan. Dia Yume! Aku memberi pikiran positif ke otak dan seluruh badanku. Aku memperhatikannya yang melihat ke seluruh kaca yang terpasang di dinding.

"kamu.. takut?" akhirnya dia mulai mengeluarkan suaranya. Hanya anggukan kecil yang kuberikan. "maaf, aku tidak tahu kalau kamu akan sekaget itu"

"siapapun akan kaget bila melihatnya!" aku terkejut mendengar sendiri nada suaraku yang lebih tinggi. Aku tidak bermaksud berteriak.

"aku tahu itu. Aku hanya ingin kamu tahu" dia berjalan mendekati cermin, menyentuh benda itu dengan tangan kanannya. "aku tidak tahu apa yang salah denganku. Setiap kali aku bertemu dengan cermin, pertanyaanku selalu sama. Kemana bayanganku?" dia melihat benda di depannya tidak memantulkan apa-apa. Dari sana, dia dapat melihatku yang berdiri tidak jauh di belakangmu. Dan mulai memperhatikanku. "aku sendiri selalu bertanya-tanya, siapa aku? Manusiakah? Tapi manusia mempunyai bayangan dicermin,
sedangkan aku tidak. Atau aku 'mereka'? Tapi 'mereka' tidak punya bayangan, sedangkan aku masih punya bayangan hitam dibawah kakiku"

Aku mencerna ucapannya. Berusaha mencari kalimat yang pas untuk diucapkan.

"lagipula.." dia menambahkan, "kakiku menyentuh tanah.." dia melompat-lompat untuk membuktikan. Terdengar suara 'buk-buk' dari sepatunya yang menyentuh lantai.

Akhirnya aku tidak berbicara apa-apa waktu itu. Suara langkah dari anak-anak koreografi yang mendatangi ruang itu membuatku dan Yume segera bergegas keluar. Bisa berbahaya kalau mereka melihat keanehan dari Yume, pikirku. Kami diam sepanjang perjalanan pulang.

Aku mengambil dasi yang tergantung di belakang pintu kamar. Beberapa pakaian tergantung disana menjadikannya sarang nyamuk. Sambil menatap cermin, aku membetulkan dasi yang sedikit menyerong ke kanan. Bagaimana cara Yume melakukan kegiatan yang berhubungan dengan cermin?

Tuesday, 30 April 2013


Namanya Yume. Dua tahun yang lalu dia pindah ke sekolah ini. Yang membuat dia mencolok diantara para siswa sekolah ini adalah rambut pendeknya yang berwarna putih. Memiliki rambut yang berbeda dari kebanyakan orang menimbulkan beberapa isu. Ada yang beranggapan kalau dia terkena penyakit parah, ada juga yang mengatakan bahwa dia seorang anak yang dikutuk.

-Untitled-

Aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Ucapan Yume kemarin sore membuatku semalaman terjaga. Aku setengah kamu, juga setengah mereka. Apa maksudnya? Apa dia menggodaku lagi?

Sekolah masih sangat sepi. Ruangan kelas masih terkunci. Beberapa petugas kebersihan menyapu daun-daun kering yang berjatuhan di taman sekolah. Aku tersenyum memberi salam kepada mereka.

Pikiranku masih berusaha mencerna ucapan Yume. Setelah dia menceritakan semua 'rahasia'-nya, aku kira ucapan itu bukan untuk menggodaku. Apa ya maksud ucapannya itu? Kalau dipikir-pikir, namanya berarti mimpi. Maksudnya dia ga nyata begitu?

"Ikkii..."

Aku menoleh mendengar suara teriakan itu. Seseorang berlari kearahku dan menangkapku.

"Yu-Yume?" aku terkejut ketika tiba-tiba dia memelukku.

"ehehe.." seperti biasa dia hanya tersenyum-senyum.

"tumben datang pagi?" aku memulai pembicaraan.

"itu harusnya pertanyaanku. Ikki sukanya berangkat siang kan?"

"oh iya hahaha. Aku semalam ga bisa tidur" kulihat raut wajahnya bertanya-tanya, "gara-gara ucapanmu kemarin"

"yang mana?" dia mengingat-ingat, "ah yang itu.. ya ampun, ga usah terlalu dipikir"

Kami duduk di luar kelas. Petugas yang membawa kunci ruang kelas belum datang. Selama menunggu kelas dibuka, kami hanya membicarakan tentang sekolah dan ekstrakulikuler. Rasanya menjadi semakin akrab dengannya. Padahal sebelumnya, jarang sekali aku menyapanya meski dia duduk di belakang bangkuku.

"oh iya, ikki ambil ekskul apa?"

"paduan suara. Dulu aktif disitu, tapi karena udah tingkat akhir, jadi ga aktif lagi"

"ya mau gimana lagi, tingkat akhir seperti kita konsennya ke pelajaran"

"iya sih, hanya saja kadang kangen datang ke ruangan paduan suara"

"tinggal datang saja bolehkan? di klubku boleh-boleh saja kok datang ke ruangan"

"enggak boleh ama guru vokalnya. Anak tingkat akhir ga boleh datang. Nyebelin banget kan?" aku merasa geregetan kalau mengingat guru vokal mengusir anak tingkat akhir yang datang ke ruang paduan suara, "loh Yume ikut ekskul apa?"

"kesenian. Asik loh.."

"wah.. Yume jago nggambar?"

"di klub kesenian ga cuma jago menggambar. Ada yang pahat juga. Semua diajari, jadi anggotanya bisa semua. Aku lebih tertarik ke lukisan"

"aku mau lihat lukisanmu" aku memasang wajah memohon.

"kalau ga salah di ruang klub ada. Kita kesana pas jam istirahat atau jam pulang ya.."

Aku mengangguk senang.


Tuesday, 16 April 2013


"ya itu. Sebagian dari mereka disini loh. Memandangimu dengan heran dan penasaran. Mereka pikir kamu mangsa yang enak"

-Untitled-

Sesaat aku merasakan hawa yang aneh. Membuatku terdiam ketakutan. Kedua kakiku seakan dipegang erat, tidak dapat bergeser sedikitpun.

"jangan menakutinya bodoh!" kakak laki-lakinya sudah berdiri di belakangku. Laki-laki itu terdengar sedikit marah.

"ehee.. maaf" temanku itu menjulurkan lidah, "aku bercanda kok hahaha"

Aku masih ketakutan. Pukulan darinya sedikit menyadarkanku.

"maaf maaf aku menakutimu, hehe.."

"ja-hat.." aku masih merasa gemetar.

"tapi sebagian yang dikatakannya benar" laki-laki itu menambahkan kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan.

Aku memandangi teman sekelasku itu. Dia tampak tenang setelah menggodaku. Sepertinya memang banyak yang disembunyikannya.

"yang aku katakan tadi itu ga bohong kok" dia mulai bercerita, "disini memang tidak cuma ada aku dan kakakku. Ada penghuni lain yang tinggal. Dan jumlahnya jauh lebih banyak dari yang kamu kira"

Setelah mendengar itu, spontan kepalaku menoleh mencari yang dia maksud. Tapi aku tidak punya kelebihan untuk melihat makhluk seperti itu.

"ternyata aku salah. Aku kira kamu bisa melihat mereka, makanya aku mengajakmu kesini. Tapi pengamatanmu yang detil, dan sampai membuatku bercerita.. itu keren!"

Aku tidak tahu harus bangga atau tidak. "kenapa kamu mengira aku bisa melihat mereka?"

"insting mungkin hahaha...." dia tertawa, "beberapa orang yang aku ajak kesini hanya terpesona dengan bangunan yang besar ini. Tidak memerhatikan sesuatu yang aneh"

Dari ucapannya, aku merasa bahwa dia merasa kesepian. Dia ingin ada seseorang yang memerhatikannya dan mendengarkan apa yang ingin disampaikannya.

"eh, mereka yang kamu maksud itu makhluk seperti apa? semacam hantu gitu?" aku bertanya perlahan.

"semacam itu" jawabnya cepat, "tapi aku ga suka mereka dibilang begitu. Memangnya rumahku berhantu? Hmm.. mungkin mereka semacam itu, tapi wujud mereka tidak seperti yang ada difilm-film. Mereka sama seperti kamu kok. Hanya saja mereka tidak terlihat. Pernah dengarkan, jika kamu dapat melihat mereka, itu tandanya mereka dalam keadaan lemah"

"oh makanya mereka sekarang tidak terlihat?" dia mengganguk menjawab, "kapan mereka dapat terlihat?"

Dia berpikir. "kalau mereka sedang kelaparan, atau ketika senja mulai datang. Sekitar pukul 4 sore, kamu bisa melihat sebagian dari mereka. Atau ketika bulan purnama. Kamu bisa melihat mereka dari pagi sampai malam. Bukan berarti mereka dalam keadaan lemah, ini malah sebaliknya. Makanya hati-hati ketika bulan purnama"

Friday, 12 April 2013


"bahasa gaulnya secret admirer. Hanya saja kata secretnya dihilangi. Soalnya aku selalu ketahuan kalo sedang mandangin dia. Malu banget rasanya.."

Love Story (Girl's Side)

Siang, pukul 12.15..
Aku memasuki cafe yang sudah lama menjadi tempat makan siangku ketika jam istirahat. Dan meja dipojokan dekat jendela selalu menjadi tempat favoritku. Selain karena meja itu berbeda dari meja yang lain, aku bisa mengamati orang-orang melalui jendela. Tapi hari ini meja itu telah diisi oleh 3 orang pemuda.

"yaah telat..." pikirku. Akhirnya aku memilih meja lain yang dekat jendela.

Seorang pelayan wanita datang menghampiri mejaku. Menanyakan pesananku.

"seperti biasa mba" jawabku santai tanpa melihat daftar menu yang diberikannya.

"es chococino satu?" pelayan itu mencoba menerka. Aku mengangguk memberi jawaban. "mau makannya sekalian?"

Aku menggeleng, "nanti saja mba, nunggu teman"

Setelah memberi senyum, pelayan itu meninggalkanku.

Aku memandang keluar jendela. Orang-orang sibuk berlalu-lalang, terutama pada jam istirahat. Cafe, rumah makan maupun tempat yang menyediakan makan siang selalu ramai. Cafe ini salah satunya. Selain karena dekat dengan kantor, aku menyukai chococino khas cafe ini. Padahal aku termasuk orang yang anti untuk minum sesuatu yang berhubungan dengan kopi.

"silakan pesanannya" sebuah gelas diletakkan diatas mejaku.

"terima kasih" aku tersenyum.

Aroma kopi mulai tercium. Aku mulai mengaduk chococino pesananku dengan sedotan. Membuat es-es yang ada didalam gelas bertabrakan. Air-air yang menempel diluar gelas mengalir, seperti chococino yang masuk ke kerongkongan.

"klining.." lonceng dipintu cafe berbunyi. Tanda jika ada pelanggan yang datang.

Tuesday, 19 March 2013


Pelajaran terakhir selesai. Aku merapikan mejaku, memasukkan buku-buku yang kugunakan selama pelajaran. Kemudian duduk tenang mendengarkan suara guru.

"eh ketempatku yuk habis ini.." ajak teman yang duduk di belakang bangkuku.

Aku menoleh. "langsungan?"

Dia mengangguk. "kalo pulang dulu kelamaan, lagian deket sini kok"

Aku menggaruk kepalaku. Aku tidak terbiasa main sehabis pulang sekolah.

"ayolaah.. bentar aja deh" pintanya.

Aku mengangguk, "iya deh.."

-Untitled-

Rumahnya tidak begitu jauh dari sekolah. Hanya saja jalan yang dilalui tidak standar. Itu sebuah jalan setapak yang jarang dilewati orang. Semak belukar yang tidak terurus terkadang menghalangi jalan. Pohon-pohon jati berumur ratusan tahun menambah nuansa seram.

"tidak ada jalan lain?" aku membuka percakapan.

Kulihat dia berpikir sesaat. "ada, tapi jauh. Ini jalan pintas yang dibuat oleh kakakku"

Aku mengangguk-angguk. "kamu tidak takut lewat sini?"

Dia melihatku kebingungan, "takut? kan masih siang..."

"iya juga sih.." aku merasa sedikit malu. Tapi tempat ini membuatku tidak nyaman.

"ah itu rumahku.."

Kami keluar dari jalan yang tidak standar itu. Ada sebuah pemukiman yang normal. Aku sudah berpikir yang aneh-aneh. Jalan pemukiman itu pun sudah beraspal. Beberapa orang lewat dan menyapa temanku.

"nah ini rumahku. Maaf ya jelek.." dia membuka pintu gerbang.

Rumahnya bisa dibilang besar. Pekarangannya luas dan bersih. Rumput-rumput yang memenuhi kebun samping dipotong dengan rapi. Bangku taman yang terbuat dari besi dibiarkan berkarat. Berbanding terbalik dengan keadaan sekitar yang sering dirawat.

Dua tahun lalu, dia masuk sebagai murid pindahan di sekolahku. Dari cerita yang kudengar, dia cuma tinggal berdua dengan kakak laki-lakinya yang pengangguran. Sedangkan orang tuanya telah lama meninggal. Aku sendiri tidak pernah bertanya soal itu.

Tuesday, 12 March 2013


Malam hari,

Di sebuah sekolah A di kota P...
....tut-tet-tot-tet-tot-....
“tuuuut....tuuut....tuuuuut....hallo ?”


Di tempat lain,
“Rudi...telponnya diangkat dong !!!” teriak ibunya dari dapur.

“Iyaa bu...” ujarnya sambil menghampiri telpon.

Diangkatnya gagang telpon, “Hallo ??”

“kresek...kresek...” suara aneh terdengar diseberang.

“Hallo ??? ada orang disana ??” ulangnya.

Hening. Tak ada jawaban dari seberang.

“Haaalloooooo” Rudi mulai jengkel.

Tiba-tiba terdengar sesuatu dari seberang, “Ngg hallo...hallo...benar ini rumahnya Rudi Hatmoko ?” tanyanya.

“Iya benar. Dengan saya sendiri. Maaf siapa disana ?” jawabnya dengan sopan

“Ini saya Pak Santoso, wali kelasmu”

glek. ‘Ada apa nih kok Pak San nelpon malam-malam ?’ batinnya.

“I...iya pak. A...ada apa ?” tanyanya gugup.

“Mengenai tugas makalah biologi, kapan kamu mau mengumpulkan ? Kamu tahu, kalau hari ini adalah terakhir mengumpulkan” ucapnya dengan marah-marah.

“I...iya pak. Saya tahu”

“Kalau sudah tahu kenapa tidak mengumpulkan ?”

“Ma...af pak, tadi saya lupa membawanya ke sekolah” ia membuat alasan.

“Bapak tidak mau tau alasannya. Pokoknya hari ini kamu harus mengumpulkan tugas itu” paksa Pak Santoso, yang terkenal sebagai guru tukang maksa.

“Apa pak ?? sekarang ??” kaget Rudi.

“Iya sekarang”

“Ta...tapi pak, sekarang sudah malam. Masa saya ke rumah bapak malam-malam ??”

“Tidak. Kamu tidak perlu ke rumah, datang ke sekolah saja sekarang. Bapak tunggu sampai jam 9. Kalau tidak, nilai kamu bapak kosongkan”

“Ja...jangan dong pak. Baik pak saya ke sekolah sekarang” kemudian Rudi menutup telpon. Dan bergegas ke sekolah dengan panik.

“Mau kemana malam-malam ?” tanya ibunya yang melihat Rudy mengeluarkan sepedanya.

“Mau ke sekolah bu” jawabnya dengan cemberut.

“Ke sekolah ? kok malam-malam ?”

“Tadi ditelpon Pak San, trus disuruh ke sekolah sekarang. Udah ya bu” ia pamit dan meninggalkan ibunya.


Lalu Rudi dengan sepede bututnya menuju sekolah. ‘Aaah bener-bener merepotkan. Kenapa musti ke sekolah malam-malam gini ?’ rudi ngedumel.

Ia terus mengayuh sepedanya melewati sawah hutan yang mengelilingi sekolahnya. ‘Hmm...kok sepi ya ?’ ia melihat sekitar. Jalan-jalan yang dilewatinya seakan mati tak ada penghuninya. Ia teringat jam telah menunjukkan pukul 20.30 ketika dia keluar dari rumah. ‘Pantas aja sepi, udah malam...’.

Tiba di sekolah, Rudi langsung memarkir sepedanya begitu saja. ‘Alah palig cuma sebentar’ pikirnya.
Ia melangkah masuk ke sekolah. Entah hanya perasaannya atau memang seperti itu, suasana sekolah di malam hari benar-benar terasa aneh. Hawanya menunjukkan suasana ganjil.

‘Sekolah ternyata serem juga kalo malam’ ia merinding.